Selasa, 10 Mei 2011

Pak tua penjual wayang

Kemarin ku lihat bapak tua yang kesusahan menuntun sepedannya di jalan tanjakan. Jalan itu sungguh sangat menajak, miris rasannya hati ini melihatnnya. Rasannya ingin menangis melihat, tapi keegoisan masih ada di diri ini, karena aku harus sekolah dan saat itupun harus kejar-kejaran dengan bel sekolah, yaa seperti biasa aku berangkat kesiangan. Jadi ku acuhkan rasa hati ini yang ingin menolongnnya. Beliau tidak hanya memdorong sepeda tuannya yang kosong,tetapi beliau membawa jualan wayangnya.
Apa wayang? Terfikirkah kalian tentang wayang, kebudayaan yang hampir punah, disaat kita menjerit-jerit tentang kebudayaan kita yang akan di ambil orang, tapi mana keperdulian kita tentang kebudayaan kita sendiri. Mengertikah kalian tentang wayang? Jangankan kalian aku saja tidak tau, selalu saja ada rasa bosan,kuno, dan tidak kere saat kita mendengar kata “wayang”, bagaimana kita bisa mengerti cerita dalam wayang. Bukankah yang lebih kita sukai artis-artis Hollywood juga artis –artis yang suka berfoto “syur”.
Arus westrenisasi semakin tajam menghujam, menyakitkan pasti bagi Pak Tua itu. Adakah yang akan membeli wayangnnya, itulah yang terfikir di benakku, mana mungkin ada anak kecil yang menyukai wayang , rasannya menjual satu wayang saja sudah sungguh sangat sulit.”Tepi Zaman” ya pak tua itu kini sedang berjalan terhuyung masih ingin melestarikan kebudayaan di tengah westrenisasi yang melanda masyarakat kita.
Terkadang anak yang lahir sekitar tahun 2000an tidak tahu tentang wayang. Oarng tua merekapun juga tidak mengajari anak itu untuk mengerti tentang kebudayaan. Mereka selalu di jejali dengan televisi, video game, PS, mainan “made in china” juga yang lebih parah “Internet” dimana mereka bisa mengakses situs-situs “Porno” yang belum layak mereka tonton.
Sungguh memprihatinkan ketika melihat semua itu terjadi, Pak Tua itu bersusah payah dengan sepeda pancalnnya dengan jalan yang berliku naik turun, beliau setia menjajakan wayangnnya. Yang kemungkinan besar tidak akan terjual. Coba bayangkan bila itu kakek kalian, bagaimana perasaan kalian ketika melihat kakek kalian berjualan wayang? Dengan mengayuh sepeda melewati jalan yang sulit, terjal dan dagangannyapun tak laku.
Sungguh miris realita hidup ini. Tapi aku??ya aku hanya bisa berteriak-teriak lewat sebuah tulisan tanpa ada campur tanggan langsng untuk menolong. Aku selalu benci dengan diriku sendiri yang tidak bisa menolong orang lain. Suatu hari nanti aku ingin anakku mengerti tentang kebudayaan, karena kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi? Maka dari itu sekarang jadi ingin mengetahui mengenai wayang. Hmmm.. ku harap tulisan ini berguna………..^_^

0 komentar:

Poskan Komentar